Tak usah dibaca, selain panjang juga tak lucu. Hanya cerita menunggu hujan reda.
Aku terobsesi memenangkan undian, namaku disebut, urutan dan hadiahnya bukan yang utama, yang penting menang.
Jelas obsesiku berbanding lurus dengan usaha. Kantor pos jadi saksi betapa banyaknya amplop berisi bungkus produk unilever, indofood, wings dll yang ku kirim ketika mereka mengadakan undian. Hasilnya? Belum beruntung.
Satu mall mengadakan lucky draw, hadiah utama mobil, dipajang pula disana, saat itu sering kudekati dan kudoakan. Selama 6 bulan segala daya upaya kukerahkan untuk meningkatkan poin, dari cara elegan hingga barbar. Peluang cukup besar, hasilnya? Belum beruntung. Pediiih, sejak itu aku tidak kesana lagi kecuali terpaksa.
Iin swalayan juga pernah mengadakan sayembara, hadiah utama sepeda motor, berbulan bulan kutawarkan tenaga gratis bagi para tetangga untuk membeli sembako seperti beras, gula, minyak dll, kadang tegak disana mengintai siapa yang mau menyumbangkan kupon undiannya, hasilnya? Satu gelaspun tidak.
Belum lagi undian rekening bank, perayaan Hut RI, acara sosial, acara keagamaan, dan panjang lagi jika disebut menambah kerut di kening.
Tak habis pikir, ada orang lagi asyik nonton, datang kru TV swata, "selamat...anda berhak mendapat sekian juta karena menonton acara kita" baah.. enak kali.
Pertengahan tahun lalu terhiburlah hati ketika teman baik mentraktir makan, dia menang undian sepeda motor dari mall tersebut. Mataku sembab karena terharu dan juga karena melihat harga makanan yang tersaji. Kuucapkan syukur pada Tuhan untuk semuanya, dan juga kupanjatkan doa supaya aku beroleh keberuntungan.
Hari baik pun tiba,
Lantai rumah panas, awalnya satu ubin, besoknya tiga, terus bertambah hingga tujuh ubin.
Thanks God, di bawah rumahku terdapat sumber minyak bumi atau gas alam. Mungkin beginilah cara Tuhan mengganjar kesabaranku.
Kuseduh kopi, kuhidangkan bersama singkong goreng untuk suami tercinta, kuajak diskusi berapa harga yang pantas untuk rumah ini jika pertamina datang bernegoisasi, saat kusebutkan angka fantastik, suami meraba keningku dia bilang aku tidak demam. Lalu ditelponnya PLN.
Saat dicek ternyata anti petir bermasalah, setelah kabelnya diputus, lantai berangsur dingin.
Hatiku pun ikut dingin, bersamaan putusnya kabel harapan dipinang dan dipersunting Pertamina.
Nb:
Minggu lalu teman baik itu menang undian lagi seperangkat tupperware dari mall yang sama.
Gak paham adek bang, sungguh!!
Rabu, 19 Juli 2017
Jumat, 14 Juli 2017
Thanks google
14 Juli 2017
Begitu banyak hal yang ingin kucurhatkan di FB, tapi selalu terhalang oleh berbagai pertimbangan. Aku ingin mengkritisi paramedis, lalu kuingat beberapa teman sebagai tenaga medis, aku tak suka dengan perlakuan oknum polisi, kuingatlah suami teman sebagai polisi, sekali aku memposting isi pikiranku, akan ada komentar yang barangkali bisa menyakiti perasaan mereka. Jadi memang postingan paling aman di Fb adalah foto close up pribadi atau keluarga, jualan, atau say hi dengan teman lama. Tak bisa dipungkiri, perasaan manusia di design sedemikian rupa supaya bisa merasakan banyak hal, marah, sedih, suka, benci, bingung, heran, takjub, kesal, rindu, dsb.
Jadi senang sekali kutemukan cara yang aman untuk curhat, yaitu blog, so, thanks Google, thanks blogspot.
Begitu banyak hal yang ingin kucurhatkan di FB, tapi selalu terhalang oleh berbagai pertimbangan. Aku ingin mengkritisi paramedis, lalu kuingat beberapa teman sebagai tenaga medis, aku tak suka dengan perlakuan oknum polisi, kuingatlah suami teman sebagai polisi, sekali aku memposting isi pikiranku, akan ada komentar yang barangkali bisa menyakiti perasaan mereka. Jadi memang postingan paling aman di Fb adalah foto close up pribadi atau keluarga, jualan, atau say hi dengan teman lama. Tak bisa dipungkiri, perasaan manusia di design sedemikian rupa supaya bisa merasakan banyak hal, marah, sedih, suka, benci, bingung, heran, takjub, kesal, rindu, dsb.
Jadi senang sekali kutemukan cara yang aman untuk curhat, yaitu blog, so, thanks Google, thanks blogspot.
Langganan:
Komentar (Atom)